Yang Katanya Rumah

Ketika yang digaung-gaungkannya kau percayai, itu saat baginya untuk terus mencari hati. Kau bodoh soal cinta. Faktanya, bunga setangkai kau anggap itu taman. Kau buta soal cinta. Faktanya, semua tanda yang ada tak bisa kau lihat. Terakhir, kau terlalu mudah menjatuhkan cinta. Dan konyolnya, kau tak sadar bahwa hanya kau yang tenggelam didalamnya.

Kau punya lima indera tapi yang kau pakai tidak ada. Kau dianugerahi akal dan pikiran tapi yang kau andalkan malah hati.

“Aku cinta kau!”, ujarnya

Lantas kau percaya pada rangkaian tiga kata itu? Manusia mabuk pun bisa mengucapkannya.

Cinta mana yang sebenarnya kau lihat? Cinta mana yang sebenarnya kau rasakan? Cinta mana yang katanya satu tujuan? Kau memang dapat merasakannya atau hanya berusaha membelanya?

Padahal jika keputusannya telah pasti, dia bisa dengan mudahnya untuk pergi

apa kau tak benci?

apa kau tak benci terkurung di rumah yang pemiliknya entah milik siapa?

Dewasa, katanya?

Kian hari kian tabu. Ternyata proses pendewasaan memang se-gila itu.

Aku rindu pada masa dimana aku hanya perlu memikirkan besok akan bermain apa. Aku rindu pada masa dimana permasalahan terbesarku hanya sebatas kacamata yang patah saat bermain sepak bola. Aku rindu saat dimana sakit terbesarku hanya sebatas luka jatuh yang perlu dijahit. Aku rindu kala itu.

Kian hari kian memikirkan setiap ucapan. Aku khawatir bicaraku hanya berdasarkan pikiran.

Kini memikirkan “aku mau apa” harus memikirkan kemauan oranglain juga. Menentukan tindakan harus berpikir kalang kabut sebelum diputuskan. Menginginkan sesuatu harus siap berkorban. Merasakan sesuatu harus dipendam.

Ketika ditanya, “kamu kenapa?”

Jawabanku, “harus dewasa ‘kan?”

Terpaan arus pendewasaan ternyata sehebat ini

Sudah lelah, dibilang payah. Sudah tahan, dibilang coba luapkan. Sudah kuat, dibilang jangan lupa istirahat. Padahal aku bukan lupa, tapi di fase ini bukannya istirahat sebatas jika sempat?

Tak lupa, yang katanya “cerita aja” ternyata hanya ingin tahu kelemahanku, titik terendahku dan mati ku.

Jangan terlalu memaksakan diri, katanya. Omong kosong, kau ingin aku jadi seperti harapan besarmu ‘kan?

Terpaan arus pendewasaan ternyata sehebat ini

Kecilku tak menyangka, dewasaku bisa sampai di titik ini, tanpa hilang jiwanya.

Menuntun, bukan Menuntut

“Harus ngerti! Harus baik! Harus patuh! Jangan melawan!”

Lambat laun kalimat semacam itu jadi seperti asupan pokok bagiku. Jika dilanggar, maka bersiaplah untuk diasingkan. Katanya, kalau ada apa-apa, cerita. Tapi, kenapa tidak didengar? Katanya, harus ngerti situasi kondisi. Tapi, kenapa tidak balik memahami isi hati?

Kadang, rasanya raga yang satu ini hanya boneka kayu, yang hanya bisa bergerak jika diatur. Dan harus diam supaya tidak kabur.

Muncul lagi argumen baru; “Dia aja udah bisa, dia aja udah jago! Sedangkan kamu?” katanya.

Dan kali ini seperti teriakan yang benar-benar masuk dari telinga kanan. Tapi tidak keluar melalui telinga kiri, justru malah menjalar masuk kedalam hati. Kau tahu? Sepanjang hidupku, aku benci membandingkan, apalagi dibandingkan. Dan kini hatiku bilang; “sekarang kau merasakannya”

Lagi-lagi, hati bilang tak apa jika harus memendam. Meski sebenarnya api ini tidak pernah padam. Aku tahu, aku tidak sempurna, apalagi istimewa. Tapi inilah aku, Aku yang sebagaimana adanya.

Tuan, puan.

Ingin ku sampaikan pada kalian, bahwa yang aku butuhkan adalah bimbingan. Bukan kekangan. Aku tidak butuh ceramah ketika aku melakukan kesalahan. Tapi arahkan aku supaya aku terhindar dari melakukan sesuatu yang salah itu. Tuntun aku supaya menjadi lebih baik. Bukan menuntut aku supaya menjadi orang baik.

Dari Aku untuk Aku

Teruntuk; Aku

Teruslah fokus pada yang dituju, ya! Terus kejar apa yang diimpi-impikan. Jangan berhenti untuk tetap semangat. Jangan merasa sedih terus-menerus.

Untuk aku, tetaplah menjadi Aku

Tak perlu berusaha menjadi dia yang memiliki otak seperti Einstein, namun hati sekeras batu. Tak perlu iri pada dia yang mengenakan baju mewah namun sikapnya semau dia. Tak perlu pesimis pada dia yang temannya dimana-mana, namun tak ber-adab pada orang tuanya.

Wahai aku, dunia bukanlah tentang apa dan sebanyak apa materi yang telah kita miliki, tapi tentang apa saja yang telah kita syukuri. Bukan juga tentang apa yang kau dapat dari dari orang lain, tapi tentang apa yang telah kau berikan pada orang lain.

Untuk Aku,

Tetaplah menjadi diri sendiri. Tak perlu dengarkan mereka yang tak sepenuhnya mengenal dirimu. Fokus menjadi diri sendiri, dan buktikan kau bisa jadi hebat tanpa harus menjadi orang lain.

Pamit

Sore ini, ku nikmati tenang yang teramat sangat.Ku rasakan senyap, hangat. Menikmati senja di ufuk barat. Menitipkan rindu yang mungkin tak bisa kau lihat.

Teruntuk kamu, dan waktu yang telah semakin debu. Aku pamit dengan perasaan yang semakin rumit. Mencoba tuk menganggap semua sebagai angin lalu. Sebelum luka ini menjadi semakin sengit.

Tapi jangan khawatir, ada satu senjata yang selalu menguatkanku; Doa. Yang berisi harapan —semoga kau baik-baik saja dan tetap bahagia. Kau tak perlu pikirkan perasaanku bagaimana. Tentu saja sedang berduka.

Biarkan waktu yang tentukan, kapan hati ini kembali pulih. Biarkan waktu terus berdetak untuk mengobati hati yang retak. Maafkan aku yang pernah menyakitimu. Maafkan aku yang pernah mengecewakanmu. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu. Semoga pamitku tidak menjadi pengganggu dalam cerita barumu.

Yang Terhalang

Hingga matanya tak bisa menatap keindahan dunia di sekitarnya 

Sebab terhalang oleh dinding dinding baja yang ia susun dengan tangannya sendiri

Memenjarakan diri di bangunan tinggi dan menutup diri

disaat yang lain berlari terburu buru entah mengejar apa

semakin mencari sibuk, waktu semakin tidak ingin diburu

dunianya semakin hidup, hatinya semakin mati.


ia tak bisa menatap lagi keindahan dunia 

Hingga akhirnya kepada langit pun ia lupa.

doa yang ia panjatkan semakin hampa

di tengah karunia-Nya yang tak pernah alpa


Tenggelam bersama waktu yang semakin debu

Tersiksa karena dunianya semakin fana

Tersungkur ia hingga dapat terkubur

Dan akhirnya, ketika Dunia itu pergi, ia hanya bisa menderita. Karena dunia itu hanyalah Maya, bukan realita.

Elegi

Ketika datang bermakna hanya untuk berkunjung.

Ketika sapa hanya berbalas senyum.

Ketika temu hanya untuk mengingat

Apa yang dapat ku-ucap?

Ketika mimpi diharap menjadi nyata

Ketika rencana selalu menjadi wacana

Ketika masalalu kembali menyelimuti kepala

Apa yang dapat ku wujudkan?

Dan lagi; kembali menyiksa diri dengan diam-diam mengunjungi kenangan melalui hujan. Kembali membiarkan waktu melesat hanya untuk mengingat. Terjebak diantara sunyi dan redup dalam kesendirian. Seperti hanya sanggup meluapkan emosi dengan berteriak. Namun, tak ada seorangpun yang dapat mendengarnya.

Dimana semesta saat aku membutuhkannya? Hanya ada luka yang menampar muka. Langit seakan memintaku tuk tetap sendiri. Dunia rasa aku pantas mendapatkannya. Sehingga jiwaku pun memilih tuk tetap diam. Meski kutau, aku bisa saja menentang.

Lagi-lagi, merasa kehilangan. 

Kehilangan kisah yang telah memberi warna —dalam sejarah. 

Tanpa Judul

Yang aku tau, aku selalu merasa cukup atas apa yang aku miliki. Atas apa yang aku capai. Kadang, aku merasa tak ingin menjadi orang lain. Cukup jadi diriku. Karena bagiku, kunci bahagia adalah bersyukur. Meski orang bilang itu masih kurang.

Dan kejadian di masa pengenalan lingkungan sekolah itu telah mengubah pandangan hidupku.
Karena Aku bertemu Kau.
Kau, yang berhasil membuatku iri hingga mati kutu. Mulai dari tingkah laku mu yang lucunya keterlaluan. Kecerdasanmu yang tak dapat ku jelaskan dengan rumus-rumus di dunia ini. Selain itu, kau sangat berani. Aku iri pada manusia tanpa rasa takut sepertimu. Menghadang semua orang yang menantangmu. Aku iri akan kedewasaanmu. Akan ketegasanmu mengambil keputusan, akan keteguhanmu mempertahankan pilihan dan pendapat. Aku iri dengan bagaimana teman-temanmu begitu mencintaimu. Betapa mereka begitu membutuhkanmu. Sehingga kau seringkali bingung untuk memilih antara aku atau teman-teman mu yang lain.
Kau luar biasa kawan, tapi kau tidak menyadarinya. —atau justru tidak mengakuinya? Karena kadangkala kau justru merendah. Dan kau selalu bilang, “merendah untuk melangit”. —Kalimat singkat yang membuatku termenung berbulan-bulan.

Kadang aku ingin menjadi matamu, agar aku bisa tahu bagaimana caramu memandang dunia.

Kadang aku ingin menjadi bahu mu, agar aku bisa tahu bagaimana caramu menghadapi rintangan.

Kadang aku ingin menjadi kaki mu, agar aku bisa tahu tempat mana saja yang pernah kau lewati.

Tapi aku tetap aku. Tidak bisa menjadi sepertimu. Ditakdirkan bertemu denganmu itu seperti angan yang menjadi nyata.

Kamu beruntung. Atau aku yang beruntung?

Sahabatku, si Perantau

Maaf aku belum sempat mengatakan bahwa aku bangga padamu.



Pergi merantau jauh dari ‘rumah’, tuk datangi tempat yang justru menyiksa diri sendiri. Menjalani hari dengan luka di hati, penuh goresan tajam yang tak bisa diobati.  Menghadapi kerasnya kehidupan dan merasa pilu di dalam keterasingan. Kadang kala, kau merasakan saat-saat dimana kau berada di titik terendah dalam hidupmu, dan ujian serta cobaan bertubi-tubi menimpa jiwamu. Hingga netra-mu seringkali menciptakan aliran air yang matamu tak kuasa untuk membendungnya. 

Tapi kau mampu tuk tetap bertahan.

Walau sering kau katakan bahwa kau berbeda dari orang-orang diluar sana, tapi kau berani tuk tetap berdiri. Meski terkadang orang di sekitarmu tidak menerimamu, kau tetap berani berjalan tegap. Kalau boleh, aku ingin kuat sepertimu. Namun bagaimana lagi? Aku tetap aku, kamu tetap kamu.

Sungguh,

Aku sangat bangga terhadapmu. Mungkin orang lain menganggap bahwa manusia semacam dirimu ada banyak, namun bagiku tidak. Kamu tetap kamu, kamu hanya satu. Dan untuk kesekian kalinya, maafkan aku yang selalu terlambat mengungkapkan isi pikiran ini padamu. 


Senyum ya, sahabatku! 

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai