Ketika yang digaung-gaungkannya kau percayai, itu saat baginya untuk terus mencari hati. Kau bodoh soal cinta. Faktanya, bunga setangkai kau anggap itu taman. Kau buta soal cinta. Faktanya, semua tanda yang ada tak bisa kau lihat. Terakhir, kau terlalu mudah menjatuhkan cinta. Dan konyolnya, kau tak sadar bahwa hanya kau yang tenggelam didalamnya.
Kau punya lima indera tapi yang kau pakai tidak ada. Kau dianugerahi akal dan pikiran tapi yang kau andalkan malah hati.
“Aku cinta kau!”, ujarnya
Lantas kau percaya pada rangkaian tiga kata itu? Manusia mabuk pun bisa mengucapkannya.
Cinta mana yang sebenarnya kau lihat? Cinta mana yang sebenarnya kau rasakan? Cinta mana yang katanya satu tujuan? Kau memang dapat merasakannya atau hanya berusaha membelanya?
Padahal jika keputusannya telah pasti, dia bisa dengan mudahnya untuk pergi
apa kau tak benci?
apa kau tak benci terkurung di rumah yang pemiliknya entah milik siapa?
