Dewasa, katanya?

Kian hari kian tabu. Ternyata proses pendewasaan memang se-gila itu.

Aku rindu pada masa dimana aku hanya perlu memikirkan besok akan bermain apa. Aku rindu pada masa dimana permasalahan terbesarku hanya sebatas kacamata yang patah saat bermain sepak bola. Aku rindu saat dimana sakit terbesarku hanya sebatas luka jatuh yang perlu dijahit. Aku rindu kala itu.

Kian hari kian memikirkan setiap ucapan. Aku khawatir bicaraku hanya berdasarkan pikiran.

Kini memikirkan “aku mau apa” harus memikirkan kemauan oranglain juga. Menentukan tindakan harus berpikir kalang kabut sebelum diputuskan. Menginginkan sesuatu harus siap berkorban. Merasakan sesuatu harus dipendam.

Ketika ditanya, “kamu kenapa?”

Jawabanku, “harus dewasa ‘kan?”

Terpaan arus pendewasaan ternyata sehebat ini

Sudah lelah, dibilang payah. Sudah tahan, dibilang coba luapkan. Sudah kuat, dibilang jangan lupa istirahat. Padahal aku bukan lupa, tapi di fase ini bukannya istirahat sebatas jika sempat?

Tak lupa, yang katanya “cerita aja” ternyata hanya ingin tahu kelemahanku, titik terendahku dan mati ku.

Jangan terlalu memaksakan diri, katanya. Omong kosong, kau ingin aku jadi seperti harapan besarmu ‘kan?

Terpaan arus pendewasaan ternyata sehebat ini

Kecilku tak menyangka, dewasaku bisa sampai di titik ini, tanpa hilang jiwanya.

Diterbitkan oleh Ananda Shafa

semua yang ditulis disini, tidak melulu tentang saya

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai