Yang Katanya Rumah

Ketika yang digaung-gaungkannya kau percayai, itu saat baginya untuk terus mencari hati. Kau bodoh soal cinta. Faktanya, bunga setangkai kau anggap itu taman. Kau buta soal cinta. Faktanya, semua tanda yang ada tak bisa kau lihat. Terakhir, kau terlalu mudah menjatuhkan cinta. Dan konyolnya, kau tak sadar bahwa hanya kau yang tenggelam didalamnya. Kau punyaLanjutkan membaca “Yang Katanya Rumah”

Dewasa, katanya?

Kian hari kian tabu. Ternyata proses pendewasaan memang se-gila itu. Aku rindu pada masa dimana aku hanya perlu memikirkan besok akan bermain apa. Aku rindu pada masa dimana permasalahan terbesarku hanya sebatas kacamata yang patah saat bermain sepak bola. Aku rindu saat dimana sakit terbesarku hanya sebatas luka jatuh yang perlu dijahit. Aku rindu kalaLanjutkan membaca “Dewasa, katanya?”

Menuntun, bukan Menuntut

“Harus ngerti! Harus baik! Harus patuh! Jangan melawan!” Lambat laun kalimat semacam itu jadi seperti asupan pokok bagiku. Jika dilanggar, maka bersiaplah untuk diasingkan. Katanya, kalau ada apa-apa, cerita. Tapi, kenapa tidak didengar? Katanya, harus ngerti situasi kondisi. Tapi, kenapa tidak balik memahami isi hati? Kadang, rasanya raga yang satu ini hanya boneka kayu, yangLanjutkan membaca “Menuntun, bukan Menuntut”

Dari Aku untuk Aku

Teruntuk; Aku Teruslah fokus pada yang dituju, ya! Terus kejar apa yang diimpi-impikan. Jangan berhenti untuk tetap semangat. Jangan merasa sedih terus-menerus. Untuk aku, tetaplah menjadi Aku Tak perlu berusaha menjadi dia yang memiliki otak seperti Einstein, namun hati sekeras batu. Tak perlu iri pada dia yang mengenakan baju mewah namun sikapnya semau dia. TakLanjutkan membaca “Dari Aku untuk Aku”

Pamit

Sore ini, ku nikmati tenang yang teramat sangat.Ku rasakan senyap, hangat. Menikmati senja di ufuk barat. Menitipkan rindu yang mungkin tak bisa kau lihat. Teruntuk kamu, dan waktu yang telah semakin debu. Aku pamit dengan perasaan yang semakin rumit. Mencoba tuk menganggap semua sebagai angin lalu. Sebelum luka ini menjadi semakin sengit. Tapi jangan khawatir,Lanjutkan membaca “Pamit”

Yang Terhalang

Hingga matanya tak bisa menatap keindahan dunia di sekitarnya  Sebab terhalang oleh dinding dinding baja yang ia susun dengan tangannya sendiri Memenjarakan diri di bangunan tinggi dan menutup diri disaat yang lain berlari terburu buru entah mengejar apa semakin mencari sibuk, waktu semakin tidak ingin diburu dunianya semakin hidup, hatinya semakin mati. ia tak bisaLanjutkan membaca “Yang Terhalang”

Elegi

Ketika datang bermakna hanya untuk berkunjung. Ketika sapa hanya berbalas senyum. Ketika temu hanya untuk mengingat Apa yang dapat ku-ucap? Ketika mimpi diharap menjadi nyata Ketika rencana selalu menjadi wacana Ketika masalalu kembali menyelimuti kepala Apa yang dapat ku wujudkan? Dan lagi; kembali menyiksa diri dengan diam-diam mengunjungi kenangan melalui hujan. Kembali membiarkan waktu melesatLanjutkan membaca “Elegi”

Tanpa Judul

Yang aku tau, aku selalu merasa cukup atas apa yang aku miliki. Atas apa yang aku capai. Kadang, aku merasa tak ingin menjadi orang lain. Cukup jadi diriku. Karena bagiku, kunci bahagia adalah bersyukur. Meski orang bilang itu masih kurang. Dan kejadian di masa pengenalan lingkungan sekolah itu telah mengubah pandangan hidupku. Karena Aku bertemuLanjutkan membaca “Tanpa Judul”

Sahabatku, si Perantau

Maaf aku belum sempat mengatakan bahwa aku bangga padamu. Pergi merantau jauh dari ‘rumah’, tuk datangi tempat yang justru menyiksa diri sendiri. Menjalani hari dengan luka di hati, penuh goresan tajam yang tak bisa diobati.  Menghadapi kerasnya kehidupan dan merasa pilu di dalam keterasingan. Kadang kala, kau merasakan saat-saat dimana kau berada di titik terendahLanjutkan membaca “Sahabatku, si Perantau”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai