Salam air mata, negeri cinta
Aku memeluk merah putihku
Berdiri disini
Ku tulis setiap cerita yang menusuk cakrawala abu.
Yang akan selalu kubaca, tanpa bosannya.
Ku latih diriku tuk bersabar
Menyaksikan jutaan jiwa menikmati lelah
Mereka makan lapar, mereka minum haus
Tapi apa mereka suka?
Jangan ditanya. Berpikirlah!
Aku masih memeluk merah putih.
Menatap para idola favorit yang khalayak ramai di bidang sosial
Ya, mereka yang mengenakan baju rapi dan dasi itu.
Mereka yang mencari nurani dibalik kursi
Tertidur saat diskusi?
Mereka bukan malas
Mungkin mereka lelah
Tapi, kata-kata cerdik dari mereka kini hampir angin
Hingga aku bertanya tanya, apakah mereka tahu dimana menempatkan Tuhan dan rakyat dalam diskusi diskusi itu?
Hai tuan,
Bisakah kau istirahat dari perseteruan karena waktu telah semakin debu?
Kota kota telah berteriak parau MERDEKA!
kalian bisa beristirahat di kasur empuk itu,
kalian bisa jalan jalan dikala kalian ingin.
Meski itu dengan separuh uang kami.
Masih kupeluk merah putihku, berdiri disini
Oh tuan
Kami punya hati punya akal
Dan dari hati yang khusyuk ini
Ada mutiara yang bercahaya
Tapi ayat ayat telah dibakar dalam tanah air yang api
Mereka menangis, air mata nya menjelma curah hujan di pekarangan negeri
Dan terakhir, aku masih memeluk merah putihku
Berdiri disini
Diatas tanah
Negeri cinta.
Salam cinta negeri air mata
Salam air mata negeri cinta